• Ahlan Wa Sahlan !

    Kebocoran Email AM Kepada Editorial Surat Kabar ( Masalah Pemilu )



    From: Andi Mallarangeng
    Date: Fri, 3 Jul 2009 18:59:14 -0700 (PDT)
    To: 
    Subject: Re: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

    Muchlis yang baik tapi sedang gundah,

    Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di
    Makasar,
    masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang
    GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi
    media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana
    yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada
    beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini
    tidak akan mempengaruhi kita.

    Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan
    kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal
    jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai
    dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak
    akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis,
    sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting
    mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah
    SBY-Boediono. Jadi,
    kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah
    dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat
    apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya
    sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar
    sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam. Tetapi lihatlah
    pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari
    pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu,
    tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas
    ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an
    berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila.
    Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan
    kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai
    kebangsaannya yaitu "all men are created equal", makanya kulit hitam
    bisa
    jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh
    Obama boss.

    Kedua, FZ cs tidak percaya bahwa politik aliran sudah mati di Indonesia.
    NU, Muhammadiyah apalah yang lain juga sudah tidak seperti dulu lagi. Kita
    kan juga liat sendiri, kyai kan UUD juga akhirnya toh, tinggal mana yang
    kantongnya paling dalam dan janjiny paling manis aja. Dan kita kan main
    cantik sekali seperti anda liat. Lalu, orang seperti ini ini juga tidak
    mau belajar dari sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia. Sejak negara
    ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung
    Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan
    terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan
    sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu
    kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98,
    menghasilkan presiden yang buta.
    Presiden buta dijatuhkan, naik pula lah
    perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega
    atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya
    pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan
    teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak
    ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by
    design yang matang lewat pemilihan langsung.

    Ketiga, ancaman tentang gerakan mahasiswa dan rakyat itu sudah tidak
    relevan lagi dengan iklim demokrasi sekarang. Hanya mimpi siang bolong yang
    bisa menghadirkan kekuatan mahasiswa. Bahkan tahun 98 pun banyak orang
    salah meletakkan sejarah itu sebagai kebangkitan mahasiswa menggulingkan
    Soeharto. Padahal bukan begitu. Itu memang jatuhnya Soeharto dan mahasiswa
    jadi alat saja, tapi memang jumlahnya besar sekali jadi secara visual
    kelihatan seperti sebuah fenomena
    gerakan mahasiswa yang digerakkan sebuah
    pemikiran kebangsaan. Buktinya tidak ada satu pun tokoh mahasiswa yang jadi
    legenda karena pemikirannya di tahun 98. Rama yang jadi tokoh terpopuler
    pun ternyata Cuma onggokan omong kosong saja dan sebentar lagi berangkat
    pula ke bui. Jadi tidak perlu khawatir mahasiswa kita ndak ada yang
    berkualitas pemikirannya sampai bisa menggerakkan massa jadi selalu
    menunggu ditungangi. Dan yang menunggangi tidak pernah pintar sehingga
    selalu ketahuan sehingga masyarakat tidak pernah percaya lagi sama
    kredibilitas demo mahasiswa jadi tenang saja boss. Kita mengontrol pikiran
    dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu. Sudahlah,
    rakyat tidak percaya lagi pada mahasiswa. Kita datangin mereka ke tv saja
    mereka sudah senang sekarang. jadi Bos, gerakan mahasiswa itu bukan lagi
    suatu hal yang menakutkan sekarang.

    Lagipula, taruhlah media tidak lagi "bersahabat" , itu
    hanya segelintir.
    Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun
    ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah
    dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma
    hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha ingat
    saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan
    persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih
    sempurna.Ndak usah paniklah dengan semua isu yang berkembang ini, mereka
    lupa musuh utama adalah waktu, bukan kita. betul kan? Kalau orang ini
    memang bisa berbuat sesuatu kan sudah lama dia lakukan.

    Ok boss, nda usah kuatir dengan FZ cs, mereka itu cuma angin sepoi-sepoi.
    Tiga hari lagi dan lima tahun ke depan kita selesaikan urusan dengan mereka
    satu persatu.

    Trims

    AM

    From: Muchlis Hasyim 
    To: mallarangeng@ yahoo.com
    Sent: Saturday, July 4, 2009 8:52:49 AM
    Subject: Fw: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

    Daeng,

    Saya baru terima email dari kawan kita ini. Terus terang saya agak tidak
    nyaman. Mungkin ini kembali menjadi pengingat Daeng. Isu kemarahan masy
    sulsel, DPT, dan penggadaian GBK, Din Samsudin yang semakin rame, saya
    khawatir bisa bergulir diluar kontrol kita. Perlu dicermati baik-baik dan
    diantisipasi semaksimal mungkin boss. Saya harap Daeng bisa memberikan
    pencerahan.

    Trims

    MH



    From: Ronggo Lawe
    Date: Fri, 3 Jul 2009 18:50:45 -0700 (PDT)
    To: 
    Subject: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

    Kawan Muchlis,

    Banyak yang mulai tidak suka dengan permainan kita di media. Mereka mulai
    mengerti cara kita mengontrol berita di media. Itu sebabnya mereka terus
    mempermasalahkan Kasus DPT bermasalah, isu SARA celi, penghinaan orang
    Bugis oleh Andi, penjualan Gelora Bung Karno, dll. Saya lihat Fadli Zon cs
    terus bergerak untuk menguji kekuatan kita di media.. Sebab mereka tahu
    untuk isu-isu yang sangat sensitif itu, akan sangat janggal sekali jika
    media tidak memberitakannya dan itu di luar kontrol kita boss. Saya lebih
    khawatir lagi orang-orang seperti Fadli Zon ini bisa menggerakkan mahasiswa
    dan masyarakat.

    Jadi boss, permainan di media ini mulai berbahaya. Kayaknya kita harus
    mencari strategi baru..

    Sumber : (Althaf/dbs/arrahmah)

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Histat Counter

    Alexa Rank

    Total Tayangan

    DMCA

    Feedjit Traffic Feed

    Get This WidgetGet This Widget